Sebuah keluarga yang sehat dan sewajarnya. Mungkin itu adalah mimpi yang tidak mungkin tercapai di masa kecilku. Tumbuh besar sebagai anak dari keluarga broken home, bukanlah suatu hal yang luar biasa memang, sampai menjadikan hal itu harus mendapat sebuah previllage khusus di mata masyarakat. Yang didapat malah nada minor bagaimana ketidak seimbangan bakal terus bertahan dalam proses menuju dewasa. Dan dengan pandangan itulah aku harus terus menjalani hidup.

Beranjak dewasa dalam kondisi keluarga pendatang, yang berusaha meraih eksistensi lewat pendidikan adalah habitat asliku. Ini makin disempurnakan dengan sistem pendidikan di Indonesia yang doyan mengklasifikasikan individu berdasarkan nilai dan ranking mereka, dan dengan mudah melabeli bodoh atau pintar pada diri seseorang. Hal yang awalnya kuanggap wajar, karena memang itu yang kukenal dari awal logikaku berputar.

Ibuku adalah contoh produk gagal buat keluargaku, keberadaannya sebagai sarjana pertanian di negara agraris seprti Indonesia, adalah noda besar bagi keluargaku yang memang sebagian besarnya adalah dokter, sebuah profesi yang jelas mendapat kedudukan tinggi di mata masyarakat.

Masa sekolahku berlalu dengan ambisi tidak sehat soal mendapat nilai tinggi dan ranking teratas, yang ironisnya nyaris tidak pernah tercapai. Kalau mau mengingat ucapan macam spesialis runner up, cuma bisa ranking 2, gak bisa dapet 10, coba kayak om itu lo,  atau cucu temen nenek tuh bagus nilainya, adalah beberapa ungkapan yang selalu aku terima di masa wajib belajar sembilan tahunku sedari SD sampai SMA. Namun itu semua bukan bagian terburuknya, label gagal yang melekat di ibuku, menjadikan beliau sebagai pribadi unik yang sedikit aneh dalam membesarkan anaknya. Aku merasa menjadi alat permohonan maafnya untuk ibunya, karena gagal memenuhi ekspektasi yang dulu sempat melekat padanya. Sayangnya “alat” ini juga ternyata tidak berfungsi terlalu baik. Aku gagal melanjutkan pendidikanku ke fakultas kedokteran yang jelas seharusnya menjadi sebuah harga mati.

Satu cerita yang jelas makin mempertebal keyakinan nenekku dan banyak orang di luar sana, kalau anak keluarga broken home, jelas hanya sebuah bukti eksistensi kalau kegagalan itu memang ada. Kalau semua momen kegagalanku kutuliskan di sini, jelas bakal hanya menjadi uraian panjang yang membosankan, tapi yang jelas nyaris 20 tahun lebih aku harus berkutat dengan keyakinan, aku adalah pribadi gagal. Hidupku bergulir dalam naungan awan kelam yang terus kunikmati tanpa ada usaha untuk keluar darinya. Satu keputusan besar yang pernah kubuat adalah berhenti kuliah, satu keputusan yang jelas malah menjadikan tanda tanya orang di sekitarku makin besar, uda gak dokter ninggal kuliah lagi. Namun sejujurnya itu adalah fase paling merdekaku sebagai seorang anak, keputusan besar yang pertama kali kuambil sendiri, kemerdekaan yang ternyata tidak terlalu mudah untuk dinikmati, karena ternyata kemerdekaan tidak hanya untuk didapatkan tapi juga untuk dipertahankan.

Momen kemerdekaan yang kurayakan dengan cara yang tidak biasa, bekerja serabutan, menyenggol beberapa hal ilegal, sampai mencoba mengakhiri hidup pernah kulakukan buat merayakannya. Makin terdengar bodoh bukan? Atau dalam kamus manusia sekarang jelas aku jauh dari kereligiusan, alasan kenapa aku terjerumus dalam lembah kebodohan, setidaknya itu yang diucapkan nenekku saat mengetahui cucu gagalnya juga gagal mencoba menemui maut. Satu frasa menarik yang mungkin di kemudian hari bakal menjadi awal tulisanku yang lain , Si gagal yang gagal menemui maut.

Berkembang tanpa ayah, di tengah keluarga rigid yang mengataskan nilai akademis, dan tumbuh di atas tumpukan kegagalan. Aku masih berani mencoba sekali lagi peruntunganku dengan hal manis yang acap kali kalian sebut keluarga. Sekarang aku adalah seorang ayah. Ayah yang khawatir. Khawatir kelak anakku bakal tertular apesku, khawatir dia tumbuh dengan kebanggan minor dari seorang ayah yang gagal, khawatir aku menjadi seperti ayahku yang lenyap sebelum tugasnya dimulai. Semua kekhawatiran yag terus menghantuiku dan memupuk subur ketakutanku.

Satu hal yang kusadari bukanlah sesuatu yang baik. Bukankah tiap lebaran kita selalu bilang kembali suci dan fitri seperti bayi yang baru dilahirkan, jadi siapa aku beraninya memutuskan masa depan anakku bahkan sebelum sempat dia menuliskannya sendiri. Anak adalah titipan yang Kuasa, begitu katanya, namun sayangnya dari apa yang kutahu, anak seperti menjadi aset yang harus dibentuk sedemikian rupa untuk bisa memenuhi apa yang dulu gagal kita raih. Hanyalah kebetulan semata yang membuat kita hidup lebih dulu, dan tentu seharusnya itu tidak membuat menjadi yang merasa paling tahu yang terbaik untuk anak.

Pengalamanku mengajarkan kalau yang lebih tua bukan berati lebih tahu dan selalu benar, menjadi orang tua bukan berarti kita mempunyai hak mutlak untuk menentukan isi tiap lembar dari kehidupan anak. Orang tua bukanlah jabatan yang titahnya harus selalu dituruti, yang tiap ucapannya sekultus firman dari Sang Khalik. Menjadi orang tua seharusnya tidak menjadikan kita sebagai pribadi picik yang menolak semua saran dan kritik dari yang lebih muda. Satu hal yang pasti dari pengalamanku, apa yang baik menurut orang tua belum tentu baik menurut si anak. Orang tua bukanlah strata tertinggi yang berhak mengatur jalan hidup sebuah individu suci nan polos yang dikenal dengan sebutan anak. Mentok terbaik yang bisa dilakukan para pemilik gelar orang tua adalah mengenalkan, soal mau atau tidak, itu 100% urusan si anak sendiri.

Karena menurutku orang tua dan anak adalah sebuah hubungan dua arah dengan tingkatan yang sama, yang harusnya bisa berkomunikasi dengan baik tanpa perlu terbatas oleh tetek bengek cengeng soal adat ketimuran. Satu hal yang mungkin orang tua sering lupa adalah kenyataan dasar, kalau anak kita tidak meminta untuk dilahirkan, jadi buang jauh-jauh keinginan untuk mengucapkan “sudah susah-susah dilahirin, dibesarin, jangan ngelawan.”

Dalam mimpi terliarku kesetaraan bakal bisa berperan penting dalam pembentukan seorang anak nantinya, jadi mungkin ada baiknya kita, para orang tua dan calon orang tua, mulai menjalankan dan mengembalikan fungsi orang tua sebagai rambu yang ramah bukan hukum pasti yang berujung neraka. Karena toh pada akhirnya, walaupun belum populer, bukan hanya anak yang durhaka, orang tuapun juga bisa durhaka bukan?