Dari depan memang tampak biasa, tapi cobalah masuk ke dalam jika ingin memanjakan lidah dengan nuansa yang berbeda. Suguhan tempat classic nostalgic di era kekinian dengan aneka makanan lokal akan kamu dapatkan.

Joyoboyo, nama dari Raja Kediri ini kedengarannya sudah tidak asing lagi di kuping saat kita berada di Surabaya.  Seolah jalan yang ada di bagian selatan kota ini menjadi sibuk akan denyut aktivitas terminal. Memang, di sana ada Terminal Joyoboyo, terminal legendaris di Kota Pahlawan sebelum adanya Terminal Purabaya. Jika dulu bus antarkota, antarprovinsi, dan antarpulau ada di sana, kini Terminal Joyoboyo hanya sebagai terminal bus kota dan angkutan kota. Tapi itu tidak merubah keadaannya sebagai tempat berkumpul warga memilih transportasi sebagai kendaraan untuk menikmati destinasi wisata yang ada. Hal ini tidak jauh berbeda dengan filosofi tempat makan yang tepat di sisi kiri jalan ini, namanya Djoyoboyo Food Terminal ( Eatery Café and Coffee) yang juga menjadi tempat berkumpulnya masyarakat kota untuk bersantap dengan membiarkan mereka memilih store mana yang diinginkan.

Tempat bersantai yang digagas Deni dan Adi atau yang biasa dipanggil “The Brothers” ini berhasil membawa pengunjung kembali mengenang memori lalu, sesuai dengan tujuan mereka menjadikan Djoyoboyo Food Terminal sebagai tempat classic nostalgic di era kekinian. Terlihat di setiap sudut ruangan yang menghadirkan old style furniture. Café dengan makanan lokal serba ada ini terbagi menjadi 3 ruangan, yaitu main hall yang sudah menyuguhkan nuansa heritage saat pengunjung pertama kali masuk. Kemudian, VIP room diperuntukkan bagi mereka yang tidak merokok, dan di sini beberapa barang antik seperti mesin ketik kuno, telepon kuno, radio kuno berjajar rapi di atas lemari kuno yang merupakan koleksi founder tempat ini sendiri.  “Kalau masuk lagi, pengunjung bisa lihat yang namanya rustic garden. Semakin kerasa nuansa tamannya pas pengunjung liat ke kanan begitu masuk ke sini, soalnya di sudut kanan itu ada pohon dengan sarang burung dan tanaman merambat di tembok, didukung juga sama model kursinya sih. Di sini juga biasanya musisi Surabaya menghibur siapa saja yang datang di hari Senin, Rabu, dan Sabtu. ” jelas Dego selaku Manager Operasional Djoyoboyo Food Terminal. Tidak hanya itu, tepat di depan bar terdapat tembok berlatar buku kuno terbuka dan radio kuno yang jadi ciri khas dari café yang ada di Jalan Joyoboyo No.46 Surabaya ini. Tidak heran jika pengunjung memilih tempat itu sebagai background foto yang pas.

Lokasinya yang strategis membuat tempat ini diburu pecinta kuliner. Total ada 12 tenant yang menyediakan makanan dan minuman. Selain nuansa di dalamnya, yang membuat tempat ini berbeda dari café-café yang sudah ada yaitu makanan lokal kekinian. “Jadi di Djoyoboyo ini ada 12 tenant yang menyediakan makan dan minuman khas Surabaya, termasuk minuman tradisional kayak sinom dan beras kencur. Khas Surabaya di sini itu maksudnya adalah kreasi anak-anak Surabaya, biarpun ada makanan yang memang itu khas dari daerah lain lho ya. Tapi kalo udah masuk sini ya harus gimana makanan ini jadi ala-ala Surabaya.  Itu sih yang bikin tempat ini jadi beda dari yang lain” kata Dego saat ditemui tim M Radio. Dua belas tenant yang dimaksud ada Malay Street Food, Warung Sambro, Pempek Bujang Tuo, Nasi Bakar Aing, 7 Heaven, Rabek, Kedai Skewer, Dimsum Mbledos, Rombonge Abunawas, Bakso dan Mie Ayam Pak Dayat, Bakmi Anglo, dan Cakwe 91. Rasa nyaman di lidah, dan dompet masih bisa tersenyum riang. Karena rata-rata harganya cuma  Rp 12.000 – Rp 25.000. Dari depan memang tampak biasa, tapi cobalah masuk ke dalam jika ingin memanjakan lidah dengan nuansa yang berbeda.