EventReviews

Ambyar yang Kentang Di Bistar Jazz Traffic Festival 2019.

Pagelaran kesembilan dari festival jazz kebanggaan Surabaya, Jazz Traffic, akhirnya memutuskan pindah kandang. Satu berita yang cukup mengejutkan, namun di balik itu tersimpan ekspektasi dan rasa bangga dari pandainya penyelenggara melihat celah, karena nama Atlantis Land adalah yang terpilih untuk menjadi rumah festival yang satu ini. Cukup unik, dan jelas menyimpan banyak janji akan pengelaman keseruan baru saat menikmati suguhan musik yang berkualitas.

Namun semua ekspektasi itu sedikit menguap saat pertama kali menjejakkan kaki di Atlantis Land. Tampilan gelang kertas tampaknya terlalu sederhana untuk event besar seperti ini, sedikit ada harapan panitia bisa menyiapkan semuanya dengan matang, termasuk bentuk gelang akses, akan lebih aduhai rasanya bila gelang akses tersebut tampil lebih apik sehingga bisa membawa pride untuk menjadikannya collectable item. Tapi toh ya sudahlah saya kesini untuk menonton musik, bukan untuk mengoleksi gelang akses. Selesai perkara gelang, satu lagi hal yang terasa cukup mengganggu untuk saya. Terpisah jauhnya keempat panggung yang ada, menjadi sedikit bahan pemikiran, dengan mepetnya rundown dan besarnya hasrat untuk menyaksikan setiap penampil, jarak tentu saja menjadi sedikit masalah. Tapi sekali lagi ya sudahlah, saya memang butuh sedikit olahraga.

Dibuka dengan Surabaya all stars di Hall Stage, saya bergeser pelan selepas maghrib untuk menyaksikan Rubah di Selatan yang bermain di Bistar Main Stage. Hampir satu jam terpesona oleh buai unit asal Jogja ini, saya memutuskan untuk mengintip Jaduk sinten Remen ft Endah Laras di Hall stage, sebelum kemudian melanjutkan petualangan untuk menyaksikan salah satu anugerah di ranah musik hip-hop Indonesia, Tuan Tiga Belas, yang menghentak Main Gate Stage.

credit by : mas wiraaa

Setengah set saya menyaksikan pria biak hati ini tampil, saya pun terpanggil untuk menikmati satu suguhan kekinian dari Pamungkas. Ada sedikit panggilan hati untuk mencoba menyaksikan Raisa, yang akhirnya saya urungkan karena saya lebih menantikan bass hero pujaan saya Barry Likumahua yang tampil berikutnya di Food Garden. Kemudian langkah kaki membawa saya ke Main gate Stage kembali untuk menikmati Andra And The Backbone, sembari menanti fenomena ambyar yang jauh-jauh hari sudah didengungkan panitia soal headliner hari pertama Jazz Traffic, Didi Kempot. Namun ambyar tinggal harapan, kekecewaan memuncak karena Didi Kempot tampil lebih ngejazz, yaa mungkin ini adalah hal yang wajar di festival jazz, tapi untuk sobat ambyar jelas ini adalah kekecewaan. Tak ingin berlama-lama berdrama kecewa, saya akhirnya berusaha menghibur diri di Main stage bersama Tulus. Satu hari terlewati, kecewa jelas cukup membumbung, namun hegemoni tetap terasa sedikit muncul.

credit by : riekigst

Hari kedua saya berusaha berangkat tanpa ekspektasi, takut kecewa lagi. Hanya ambisi yang saya bawa hari itu agar tidak sampai melewatkan penampilan Ardhito, Danilla, Tompi, dan Nonaria. Semua nama yang dengan bangga saya berhasil lewati tanpa kelewatan satu halpun. Kejutan datang saat semangat nostalgia saya dikembangkan oleh Letto dan Naff, dua nama di luar daftar yang justru bisa menambah obat kecewa saya karena luka hari pertama.

credit by: riekigst

Selesai melihat kolaborasi mesra Nonaria dan Endah N Rhesa, saya mencoba sedikit peruntungan untuk mengunjungi Main stage, dan menikmati Dewa 19. Sedikit mangkel  karena kualitas sound yang tidak terlalu sedap, namun itu semua berusaha saya abaikan sambil mengagumi performa Ari Lasso, yang tak ada matinya. Bersamaan dengan lagu terakhir dari Dewa, berarti berakhir juga petualangan saya di Bistar Jazz Traffic Festival tahun ini.

credit by: mas wiraaa

Walaupun menyelipkan sedikit doa agar panitia lebih cekatan lagi memperhatikan apapun, Bistar Jazz Traffic tetap merupakan satu hadiah indah untuk keringnya festival musik di Surabaya, makanya jelas tidak salah bukan, kalau saya (dan saya yakin banyak orang lainnya) berharap festival ini digarap dengan arah yang lebih jelas dan cara yang lebih rapi.

Related posts
MusicReviews

Ditikam oleh Tikam Lewat Delusif

MusicReviews

Melewati Batas Dua Alam Bersama Danilla

MusicReviews

Got A Feeling, Debut Menyenangkan dari Brina

MovieReviews

Film Semesta, Cerita Tentang Mereka para Perawat Bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *