MusicReviews

Don’t Worry Danilla, I’ll Hold Your Fingers Well.

Saya pertama kali berkenalan dengan penyanyi ini lewat Berdistraksi, satu tembang yang entah kenapa begitu menempel di raga dan sukma sederhana saya. Hal yang membuat saya kemudian berusaha mengulik lebih jauh mengenai sosok bernama Danilla Riyadi, usaha yang kemudian membawa saya bertemu dengan Telisik, album debutnya. Album yang kemudian saya tempatkan dalam jajaran musik rebahan favorit saya.

Puas bercumbu dengan 12 single yang ada di album Telisik, saya kemudian melanjutkan perjalanan dan merambah ke Lintasan Waktu. Ada warna yang berbeda di sini. Danilla yang lebih dewasa, terdengar matang setelah melewati proses akil baligh yang paripurna. Entah kenapa magis dari suara Danilla begitu kental dan kuat, seakan menebar ancaman dosa yang perih kalau engkau berani berpaling dan melupakannya.

Magis yang terus menempel ini akhirnya membawa telinga saya menemui Fingers. Satu EP yang kabarnya dibuat sendiri secara seutuhnya oleh Danilla. Thumb adalah track yang berada di daftar putar teratas, dengan durasi yang cukup pendek (hanya 1 menit 27 detik) lagu ini dengan mudahnya membuat saya melupakan Telisik dan Lintasan Waktu, entah kenapa gejolak hati saya seakan berteriak We’ll be a politician somehow, adalah lirik yang cukup brengsek untuk disematkan dalam sebuah lagu sekultus ini. Dan lebih brengseknya lagi lagu ini enak.

Berjalan ke daftar kedua, saya mulai berkenalan dengan dengan Index, sebuah balada lembut dengan ramuan mujarab khas dari Danilla. Kerapuhan total yang disuarakannya sungguh menyayat hati dengan nikmat. Middle adalah track ketiga dari EP ini. Dan saya mulai kehabisan kata buat menggambarkan apa yang saya rasakan setelah tiga track berlalu di telinga saya. Chorusnya yang maut diperparah dengan liriknya yang sungguh aduhai, I’ll die, Die in your smile. And yes, i thought i’m gonna die right now.

Tapi saya sadar belum waktunya saya berlayar dalam ketenangan, karena denting piano syahdu nan mengancam mulai berdenting, pertanda track keempat, Ring, sudah mulai meluncur. Track yang melambangkan jari manis, jari tempat kita menyematkan tanda setia sehidup semati, satu momen yang seharusnya tidak dirusak oleh tuntutan kolot mengenai waktu ideal untuk melakukannya, satu hal yang dilukiskannya dengan apik lewat lirik, You should be wondering about the nights You should be worrying about the heights Well that’s just what they said. Barisan kata yang tampaknya cocok untuk bermasa bodoh ria dan lepas dari rongrongan pertanyaan, “kapan nikah?”

Pinky, track kelima dari EP ini meluncur tanpa aba-aba. Lepas dari kesyahduan mengutuki lingkungan lewat Index, suara alto Danilla langsung datang menjemput. Track terpendek dengan durasi 1 menit 10 detik ini kemudian saya sematkan sebagai idola baru saya, yang secara tuntas berhasil merangkum kelima jari saya untuk mengusap wajah, sambil berusaha tetap sadar, kalau Danilla Riyadi dan karya luar

biasanya memang sungguh ada.

Satu EP yang sungguh menyenangkan, dikemas dengan sangat sederhana dan tepat. Tanpa terasa ada satu halpun yang berlebihan. Kelima lagu yang saling berkesinambungan dan membius walaupun tampil dengan durasi yang tidak terlalu panjang. Namun efek yang dihasilkan tetap sama memuaskannya seperti dua saudara tuanya. Kalau boleh sedikit saran sih, jangan dengarkan EP ini secara terputus-putus, kalau kamu tidak ingin kehilangan mantra ajaib yang tersimpan di tiap tracknya.

Related posts
MusicReviews

Ditikam oleh Tikam Lewat Delusif

MusicReviews

Melewati Batas Dua Alam Bersama Danilla

MusicReviews

Got A Feeling, Debut Menyenangkan dari Brina

MovieReviews

Film Semesta, Cerita Tentang Mereka para Perawat Bumi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *